Belum lama ini Indonesia dihebohkan oleh akademisi yang digadang-gadang sebagai “The Next Habibie”, yaitu Dwi Hartanto. Dwi adalah Mahasiswa Doktoral Universitas TU Delft di Belanda yang ketahuan berbohong soal segala temuan dan prestasi yang sebenarnya hanya fiksi belaka. Dia pun akhirnya ngeluarin pengakuan setelah didesak oleh kolega serta ilmuwan lain.

Dunia akademis memang jadi ranah yang sensitif dan panas. Soalnya, enggak cuma mendapat ketenaran, lo juga bisa mendapatkan banyak uang kalau berhasil jadi ilmuwan atau penemu. Hal inilah yang mendorong banyak akademisi di seluruh dunia berlomba-lomba jadi yang terbaik di bidangnya.

Terlepas dari ilmu, kecerdasan, hingga hak paten yang mereka miliki, para ilmuwan/akademisi bukannya kebal begitu aja dari kontroversi. Selama ilmu pengetahuan masih berkembang, hasil temuan mereka akan terus dipertanyakan keabsahannya. Di antara banyak hasil penelitian/temuan atau karya yang terbukti valid, enggak sedikit juga ilmuwan yang ketahuan bohong.

Sebenarnya, kasus Dwi adalah satu dari banyak contoh kasus ilmuwan yang ketahuan berbohong. Bisa dibilang, kebohongan yang dilakuin Dwi masih tergolong ringan karena belum punya pengaruh yang besar buat masyarakat luas. Gue bakal bahas sosok-sosok akademisi, termasuk ilmuwan, penemu, dan intelek, yang reputasinya hancur lebur setelah tertangkap basah berbohong merekayasa penelitian, melakukan pemalsuan, dan melakukan klaim atas hasil temuan orang lain.

1. Stephen Ambrose

Stephen Ambrose adalah sejarawan asal Amerika Serikat yang dikenal dengan karya tulisnya seputar Perang Dunia II, seperti The Wild Blue: The Men and Boys Who Flew the B-24s Over Germany dan Eisenhower and Berlin, 1945: The Decision to Halt at the Elbe. Ambrose juga dikenal sebagai penulis biografi presiden Amerika Serikat di masa Perang Dingin, Dwight D. Eisenhower.

Enggak lama setelah Ambrose meninggal dunia pada 2002, Forbes ngelakuin investigasi atas karya-karya sang sejarawan. Hasil temuan Forbes pun ngebuktiin Ambrose ngeplagiat karya penulis Thomas Childers dan sejarawan-sejarawan lainnya dalam enam buku dan tesisnya. Dia juga dicurigai merekayasa biografi Eisenhower setelah ketahuan berbohong atas kedekatannya dengan sang presiden.

2. Shinichi Fujimura

Pada 1981, seorang arkeolog otodidak lulusan teknik pabrik asal Jepang bernama Shinichi Fujimura mengguncang dunia dengan temuan perabotan batu berumur 40.000 tahun yang dipercaya menjadi perabotan batu tertua yang pernah ditemuin di Jepang. Dia pun terus nemuin artefak yang berusia lebih tua di tahun-tahun sebelumnya dan bikin semua orang percaya kalau masa prasejarah di Jepang lebih panjang dari sebelumnya. Penemuan ini pun bikin kariernya meroket dan membuatnya disebut sebagai pemilik “tangan tuhan” di kalangan arkeolog.

Pada Oktober 2000, Fujimura dan tim arkeolognya nemuin perabotan batu berusia 600 ribu tahun, dipercaya sebagai peninggalan tertua di dunia. Penemuan ini pun bikin namanya sebagai arkeolog dikenal di seluruh dunia. Sayangnya, temuan tersebut terbukti palsu setelah surat kabar Mainichi Shimbun ngerilis tiga foto yang memperlihatkan Fujimura yang sedang menggali lubang, mengubur artefak, lalu menggalinya kembali. Hal ini pun memaksa Fujimura ngaku, tergoda oleh setan adalah alasannya.

3. Anil Potti

Mahasiswa jurusan medis Universitas Duke ini ketahuan memalsukan hasil penelitiannya tentang obat kanker. Potti bersama tim risetnya merilis temuan soal sel kanker paru-paru dalam jurnal The New England Journal of Medicine. Temuan ini tentu bikin para akademisi medis di seluruh dunia terkejut. Begitu pun para penderita kanker yang jadi punya harapan penyakitnya bisa sembuh.

Sayangnya, penelitian dan harapan yang dapat mengubah dunia ini pupus setelah tim riset MD Anderson Cancer Center mulai ngetes dan mempertanyakan hasil penelitian Potti dan kawan-kawan. Mereka pun enggak bisa membantah dugaan pemalsuan dan rekayasa penelitian yang dituduhkan. Potti juga terbukti bohong atas klaim beasiswa dari Rhodes. Hal ini pun membuat Potti mengundurkan diri dari Duke. Meski reputasinya udah jelek, Potti tetap berkomitmen dalam riset pencegahan kanker. “Menemukan obat kanker adalah tujuan hidup gua,” ujar Potti.

4. Jan Henrik Schon

Akademisi asal Jerman ini sempat menikmati statusnya sebagai calon ilmuwan terkemuka setelah temuannya dalam bidang nanoteknologi. Temuannya ini dirilis oleh jurnal Science and Nature selama 1998 hingga 2001. Hasil temuan dan penelitiannya diakui memang sulit dipahami, tapi tetap dianggap sebagai temuan baru yang dipercaya dapat mengubah ilmu pengetahuan.

Sayangnya, karier Schon mulai goyah setelah ilmuwan dan akademisi sebidang melakukan percobaan yang sama. Hasilnya pun berbeda jauh dengan yang dilakukan Schon. Hal ini pun bikin dunia ilmu pengetahuan mempertanyakan hasil penelitian Schon. Schon akhirnya terbukti mengada-ngada setelah dia bersama timnya enggak mampu membuktikan keabsahan penelitiannya. Saat pembuktian, Schon beralasan banyak catatan udah hilang dan terhapus serta mesin yang digunakan udah enggak layak. Hal ini pun bikin gelar Ph.D. Schon dicabut dan semua jurnal penelitiannya dihapus.

5. Dong-Pyou Han

Akademisi kelahiran Korea Selatan ini merupakan asisten profesor ilmu biomedis Universitas Iowa State. Penelitiannya tentang vaksin HIV membuat namanya dikenal sebagai “penyelamat”. Pada 2008, Han bersama pemimpin riset, Michael Cho, berhasil ngebuktiin antibodi HIV dalam vaksinnya ampuh setelah diuji coba pada kelinci. Hal ini pun membuat Cho, Han, dan timnya digelontorkan dana bantuan sebesar 19 juta dolar untuk penelitiannya.

Pada 2013, tim peneliti Universitas Harvard menemukan antibodi manusia dalam sampel darah kelinci. Hal ini membuat Cho melaporkan langsung ke penyelidik. Han pun mengakui kesalahannya dan ngundurin diri dari Iowa State. Dia pun dianggap memalsukan data yang enggak hanya membuatnya kehilangan reputasi, tapi juga membuatnya berakhir di balik jeruji besi setelah Senator Iowa, Charles E. Grassley, menuntutnya agar dipenjara karena menganggap Han telah menyalahgunakan uang rakyat. Han pun dituntut 57 bulan penjara, tiga tahun masa tahanan rumah setelah keluar, serta denda 7,2 juta dolar.

6. Diederik Stapel

Enggak ada kasus pencekalan akademisi yang lebih absurd dari apa yang dilakukan psikolog asal Belanda, Diederik Stapel. Alumnus Universitas Tillburg ini sempat dianggap sebagai psikolog terkemuka setelah hasil penelitian dan karya tulisnya dirilis di jurnal-jurnal akademik serta media mainstream.

Sayangnya, reputasi Stapel hancur setelah hasil penelitiannya dianggap mengada-ngada dan dibuat secara asal. Contohnya adalah penelitiannya yang menyimpulkan, “pemakan daging lebih egois dibanding vegan.” Stapel juga dituduh memalsukan data, memplagiat, dan membuat karya yang enggak berdasarkan nilai akademis. Reputasi Stapel pun terjun bebas bersama dengan reputasi para akademisi lain yang memakai penelitiannya sebagai rujukan. Stapel pun mengakui kesalahannya, “Gua gagal sebagai seorang ilmuwan dan peneliti.”

7. Andrew Wakefield

Di antara banyak ilmuwan/akademisi yang ketahuan bohong, Andrew Wakefield bisa dibilang yang paling parah karena kebohongannya berdampak negatif terhadap masyarakat luas. Pada 1998, dokter lulusan St. Mary’s Hospital Medical School ini mempublikasikan hasil temuannya di jurnal The Lancet. Dia ngeklaim bahwa vaksin rubella bisa memicu autisme pada anak-anak. Klaim Wakefield pun dianggap sebagai temuan yang penting dan membuat banyak orangtua di seluruh dunia menolak anaknya buat divaksin.

Klaim Wakefield terbukti keliru setelah semakin meningkatnya kasus campak dan gondok di Amerika Serikat dan Eropa. Pada investigasi yang diadakan pada 2010, Wakefield terbukti memalsukan data dan mengaburkan fakta. Bahkan, Wakefield juga terbukti disuap oleh seorang pengacara yang berniat menuntut sebuah pabrik vaksin. Hal ini pun membuatnya dianggap bersalah atas pemalsuan dan tindakan tak pantas sebagai seorang akademisi. Meski reputasinya udah hancur, Wakefield tetap kekeuh kalau temuannya benar-benar valid.

8. Charles Dawson

Di awal abad ke-20, dunia masih heboh dengan teori Darwin yang membahas evolusi manusia. Teori Darwin pun mendorong para arkeolog di seluruh dunia buat nemuin fosil-fosil makhluk primitif yang dapat mendukung teori tersebut. Salah satu arkeolog yang ikut-ikutan tren ini adalah Charles Dawson yang dikenal sebagai penemu fosil manusia Piltdown. Fosil ini dianggap arkeolog sebagai penemuan besar karena menjadi missing link antara kera dan manusia.

Seiring berkembangnya teknologi dan penemuan fosil-fosil lainnya, teori manusia Piltdown terbukti hoax. Pada 1953, tim investigasi Time ngungkapin bahwa fosil yang ditemukan Dawson adalah rekayasa. Tengkorak yang ditemukan dipastikan adalah kombinasi dari kepala manusia, rahang orang utan, dan gigi simpanse. Hal ini membuat reputasi Dawson sebagai seorang arkeolog hancur. Dawson pun enggak mendapatkan gelar kehormatan dan masuk ke Royal Society. Padahal, kolega sesama penemu manusia Piltdown mendapat kehormatan tersebut.

Dalam bidang apa pun, udah terbukti bahwa segala sesuatu yang dimulai dari kebohongan itu enggak menghasilkan sesuatu yang baik meski dilandasi niat mulia. Kalau memang punya niat baik, justru reputasi bukanlah prioritas. Kalau udah menangin ego dan pengen banget diakuin dunia sebagai ilmuwan/akademisi nomor wahid, enggak mengherankan kalau cara apa pun bakal ditempuh, termasuk ngibulin masyarakat luas. Lantas, buat apa mempelajari suatu bidang sebegitu dalamnya?