Saat ini perhatian dunia emang lagi tertuju pada Jalur Gaza. Pasalnya, polemik antara Israel dan Palestina tak kunjung menemui titik tengah. Israel adalah negara Yahudi, sementara sebagian besar penduduk Gaza beragama Islam. Namun masalahnya ini bukan konflik agama. Yaps, ini konflik politik yang disertai krisis kemanusiaan.

Untuk itu tentunya perhatian masyarakt Indonesia tertuju pada Gaza, hampir setiap hari kita menemukan tulisan di media atau komentar dimedia sosial tentangnya. Nah, sebelum kamu hanya sekedar ikut-ikutan untuk berkomentar, ada baiknya kamu pelajari beberapa hal dibawah ini.

Tentang Gaza

Wilayah Palestina terdiri dari dua bagian, Tepi Barat dan Jalur Gaza. Masing-masing dikuasai faksi politik yang berbeda: Fatah di Tepi Barat dan Hamas di Jalur Gaza. Setelah kemenangan Hamas dalam pemilu tahun 2005 lalu, Israel memang sudah memindahkan pemukiman penduduk Yahudi ke luar Gaza dan menarik mundur pasukannya. Tapi tentara Israel masih tetap mengontrol lalu lintas udara, pasokan air dan pintu perbatasan antara Gaza dan Israel.

Jalur Gaza sendiri merupakan tanah seluas 225 km persegi -kurang lebih sepertiga luas Jakarta- dengan sekitar 1,7 juta penduduk. Sekilas mungkin ini tidak terlihat begitu padat. Tapi sepertiga dari 1,7 juta manusia itu hidup di Gaza City, yang hanya memiliki luas sekitar 45 km persegi. Ini menjadikan jalur Gaza salah satu wilayah urban terpadat di dunia. Padahal kota ini selalu menjadi sasaran tiap kali Israel melancarkan serangan. Jatuhnya korban sipil pun jadi nggak terhindarkan.

Mengalami Perang Yang Tak Seimbang

Aktivis HAM Israel yang tergabung dalam B’Tselem mengatakan jumlah korban yang jatuh pada konflik di tahun 2008 saja berjumlah 762 orang di pihak Palestina (300 diantaranya adalah anak-anak) dan hanya 3 korban jiwa di pihak Israel. Sementara pada konflik yang baru-baru ini terjadi, hingga 19 Juli 2014 jumlah warga Gaza yang tewas akibat serbuan roket Israel telah melewati mencapai 360 jiwa. Tahu berapa jumlah korban di pihak Israel? Hanya 11 tentara Israel yang tewas, itupun baru berupa klaim dari Hamas.

Dilihat dari perbandingan jumlah korban tewas, bisa disimpulkan bahwa ini adalah pertikaian dengan kekuatan yang nggak seimbang. Nyawa satu warga Israel pun dipandang lebih berharga dari nyawa rakyat Palestina.

Hukuman Kolektif

Pemerintah Israel berdalih serangan-serangan yang mereka luncurkan selama ini untuk melindungi keamanan negaranya. Padahal Israel udah mengurung Gaza sejak Januari 2006 sebagai akibat dari keputusan rakyat Palestina memenangkan Hamas dalam sebuah pemilu yang sah. Israel lalu memblokade jalur perdagangan Gaza, sehingga rakyatnya gak bisa memperoleh beberapa komoditas seperti ketumbar, jahe, pala dan bahkan koran. Blokade ini ditengarai sebagai hukuman koletif yang dijatuhkan kepada warga Gaza karena memilih Hamas sebagai pemimpin mereka.

Anak-Anak Mengalami Stres Berat

Lebih dari setengah penduduk Gaza adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun. Menurut psikiater kenamaan Palestina Dr. Eyad El Sarraj, satu dari lima anak-anak tersebut menderita Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). PTSD adalah gangguan emosional yang diantaranya ditandai dengan kecemasan parah akibat dari peristiwa yang menakutkan, serangan fisik atau perasaan terancam di masa lampau.

Anak-anak di Gaza gak bisa tidur dengan tenang karena mimpi buruk dan kecemasan yang hebat akibat serangan demi serangan yang mereka lihat. Untuk pulih, mereka membutuhkan konseling, psikoterapi serius, serta pengobatan.

Mengungsi Untuk Selamanya

Lebih dari setengah juta orang menyebut diri mereka sebagai pengungsi alias orang yang tak memiliki negara. Mereka masih mengaggap tanah yang diambil oleh Israel setelah Perang 1948 sebagai hak mereka.

Ide untuk menjalankan sistem satu tanah untuk dua negara atau two-state solution sebagai jawaban dari konflik Israel-Palestina telah muncul sejak 1974, dan dipertegas dalam Perjanjian Oslo tahun 1993. Namun sebuah poling yang baru-baru ini dilaksanakan mengungkapkan bahwa sebagian besar rakyat Israel maupun Palestina ‘sepakat’ kalau mereka tidak sudi berbagi negara. Hanya 35% warga Israel yang mendukung ide ini dan 27% Palestina yang percaya bahwa pendudukan di Tepi Barat dan Gaza bisa diakhiri dengan solusi dua negara.

Lalu apa yang akan didapatkan dari perang ini? Kecil kemungkinannya bahwa Israel akan aman dari serangan roket Hamas. Selama masih banyak korban sipil yang jatuh, Hamas selalu memiliki alasan untuk mendapatkan simpati warga Gaza.

Israel dan Palestina sudah bertikai selama hampir 70 tahun. Artinya, baik para pemimpin Israel maupun Palestina yang sekarang sebenarnya hanya mewarisi konflik ini dari kakek-kakek mereka. Dalam situasi seperti ini, keputusasaan adalah hal yang wajar. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, misalnya, mengakui bahwa secara pribadi dia telah angkat tangan dan merasa konflik ini tidak akan bisa diselesaikan.

Mendukung komentar Edgar Keret dari LA Times, dalam situasi seperti ini cita-cita “perdamaian” sebaiknya dilupakan saja. Gantilah kata “damai” dengan “kompromi”. Ini mungkin terdengar nggak megah, tapi lebih realistis. Setiap pihak dalam konflik ini harus bisa berkompromi.

Dalam beberapa minggu yang akan datang, pertikaian terbuka mungkin akan mereda dan status quo kembali tegak. Tetapi selama Israel dan Palestina masih tak mau berkompromi, warga Gaza harus siap menyambut serangan terbuka berikutnya satu atau dua tahun lagi.

Well, demikianlah artikel ini dan semoga aja pertikaian antara dua negara ini dapat menemukan titik tengah ya guys! Aminnnn 🙂