Kematian adalah sebuah hal yang misterius dan pastinya mengkisahkan pilu. Yah, berbicara mengenai kematian sampai dengan detik ini enggak ada satu pun manusia yang betul-betul tahu kemana keluarga mereka akan pergi usai mengalami kematian. Maka dari itu, prosesi kematian biasanya dibalut dengan suasana yang sangat kelam dan menyedihkan.

Namun tampaknya akan terasa berbeda dengan beberapa tempat ini. Pasalnya hal sedemikan tidak berlaku dengan mereka. Bahkan tempat-tempat ini justru ngerayain kematian dengan lebih meriah, kalah deh meriahnya dengan perayaan ulang tahun!

Yahh, mungkin buat kita hal itu enggak banget yakann guyss? Namun itulah cara mereka mengantarkan jiwa orang-orang yang mereka cintai supaya bisa tenang diatas sana. Nah, perayaan kematian seperi apa dan dari mana aja sihh yang unik dan jauh dari kesah sedih? Yuk, kita cari tau bareng-bareng.

Rambu Solo di Tana Toraja

Kalau udah ngomongin Tana Toraja, uda pasti kita enggak bisa luput dari Rambu Solo atau upacara adat kematian orang batak. Yahh, kematian di Tana Toraja memang dirayakan besar-besaran. Enggak cuma mengantarkan mayak ke lumbung persistirahatan terakhir, namun ada pula proses penyembelihan kerbau.

Ohya, sebelum disembelih, kerbau-kerbau tersebut diadu terlebih dahulu lho. Kerbau yang menang adalah kerbau yang paling kuat dan dapat mengalahkan kerbau lainnya. Namun kerbau mana pun yang menang, tetap saja disembelih. Kalau dipikir-pikir fenomena ini cukup filosofis, sebab sekuat apapun manusia di dunia ini, tetap saja suatu hari nanti akan mengalami kematian.

Upacara ini enggak selalu dilakukan beberapa hari setelah seseorang meninggal. Ada juga yang melakukannya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah anggota keluarganya meninggal. Kenapa? Soalnya, untuk bikin upacara ini, butuh kurban kerbau yang harganya enggak murah. Sampai bisa membeli kerbau dan melakukan perayaan ini, mayat-mayat diperlakukan seperti orang yang tidur. Mereka digantikan baju dan lain sebagainya serta ditidurkan di rumah masing-masing keluarga. Hal ini mungkin agak mengerikan bagi kita tetapi merupakan hal yang wajar di Tana Toraja.

Pemakaman Langit Tibet

Biasanya mayat dikuburkan, entah dengan menggunakan kain kafan, peti mati atau dikremasi dan abunya disimpan atau mungkin disebar ke laut. Hal itu enggak berlaku di Tibet. Di sana mayat justru dipotong-potong dan dijadikan makanan burung bangkai, ihhhh… Kesannya sih kayak enggak menghormati bangetkan sama mereka yang sudah tiada.

Usai pemberkatan, mayat-mayat ini ditelungkupkan di puncak gunung kemudian dipotong-potong. Hal ini bertujuan mengundang burung bangkai agar memakan mayat itu. Memang sih, buat yang enggak terbiasa pasti enggak kuat melihat prosesi ini karena cukup menjijikkan. Namun bagaimana pun ini adalah tradisi yang udah mengakar kuat sejak lama di tengah masyarakat Tibet.

Ada satu hal yang harus kamu ketahui perihal rirual ini, kebanyakan dari mereka menganggap bahwa dengan melakukan hal sedemikan mereka yang udah meninggal dapat terangkat ke langit bersama burung-burung bangkai tersebu. Cukup filosofi sihhh.

Tarian Kematian

Mereka yang sudah dikubur biasanya dijenguk dengan cara didoakan di depan makam mereka, seraya bunga ditaburkan atau ditaruh supaya makam terlihat segar. Bagi orang Malagasi, Madagaskar, enggak ngelakuin hal itu justru untuk mengenang mereka yang meninggal. Mereka bahkan ngeluarin orang yang udah meninggal dari kuburannya setiap tujuh tahun sekali dan mengajaknya menari!

Ritual ini bernama Famadihana dan dilakukan dengan cara mengangkat tubuh orang yang telah mati ke atas kemudian menari bersama-sama anggota keluarga lain. Ritual ini terlihat ramai dan menyenangkan, seolah bagi mereka kematian enggak perlu diratapi berlarut-larut. Hal ini bertujuan supaya semangat dan arwah para orang mati akan segera bergabung dengan para nenek moyang di surga. Saat ngelakuin ritual ini, mereka memang harus hati-hati, sih. Soalnya, tubuh mayat yang udah membusuk, ‘kan, memang rapuh banget. Salah-salah, mayat bisa jatuh dan terburai, kan?

Swamumifikasi ala Sokushinbutsu

Kenapa saya tulis swamufikasi? soalnya, dalam proses ini, para biksu melakukan mumifikasi pada diri mereka sendiri! Ya, sebenarnya, sih, bisa aja disebut bunuh diri, tapi dibilang menyakiti diri sendiri atau putus asa juga enggak bisa. Malahan, mereka yang memutuskan untuk mati ini meninggal dalam keadaan tenang.

Setelah merasa bahwa mereka sudah mencapai ketenangan dan kedamaian serta menemukan tujuan hidup, para biksu yang menganut metode ini melakukan diet selama 1.000 hari. Pada saat itu, mereka cuma makan kacang-kacangan dan biji-bijian supaya semua lemak di tubuh hilang. 1.000 hari selanjutnya, mereka hanya makan semacam kulit akar dan minum teh beracun dari getah pohon Urushi. Getah ini memang aslinya bukan bahan buat makanan/minuman, melainkan bahan vernis cat. Jadi, tubuh mereka pun jadi beracun dan belatung enggak akan memakan tubuh mereka.

Setelah itu, mereka akan bersemedi di sebuah kuburan batu. Ada lonceng yang dihubungkan dengan kubur batu itu. Nah, setiap hari selama masih hidup, mereka bakal membunyikan lonceng sebagai tanda kalau mereka belum mati. Kalau lonceng sudah berhenti berbunyi, artinya mereka sudah enggak bernyawa. Para biksu yang masih hidup pun menyegel makam dan membacakan doa-doa suci selama 1.000 hari. Setelah itu, mayat mereka bakalan dipindahin ke dalam kuil dan mereka pun telah dianggap menyatu sama Sang Buddha setelah proses mumifikasi berhasil.

Prosesi ini jujur mengerikan banget dan pastinya enggak semua orang mau ngelakuinnya. Maklum, siapa sih di dunia ini yang sebenarnya pengen meninggal secara sukarela?

Memakan Abu Kremasi

Sebuah suku di pedalaman Amazon bernama Yanomami punya kebiasaan memakan orang. Tenang aja, bukan berarti mereka ngebunuh orang untuk dimakan (kayak cerita kanibal pada umumnya). Mereka memakan tumbukan abu orang yang udah meninggal di suku mereka. Biasanya, abu ini dicampur ke makanan tertentu seperti sup pisang.

Ritual ini mungkin kedengaran menjijikkan dan enggak sehat. Jangankan abu orang meninggal, abu kayu aja enggak sehat buat dijadiin makanan. Namun, suku yang terkenal dengan ketangguhannya ini menganggap kalau dengan dimakan, arwah para orang yang meninggal bisa menyatu dengan mereka dan bisa tenang. Di antara yang lain, mungkin ini kali, ya, perayaan kematian yang paling ekstrem dan kontroversial kalau hadir di tengah masyarakat modern.

Meskipun kedengaran aneh bagi kita, setidaknya hal-hal di atas membukakan mata kalau ada beberapa kelompok masyarakat yang nganggap kematian adalah sesuatu yang menyenangkan, bukan menyedihkan. Mungkin kematian ibarat melepaskan anak semata wayang buat pergi kuliah ke tempat yang jauh. Bikin sedih, tapi juga bikin bangga.