Eh you watsapp guys. Apakah lo salah satu orang yang mencintai dunia MotoGp? Jika iya, lo pasti pernah berpikir duh Valentino Rossi nikungnya kok miring banget gitu, kok nggak jatuh ya? Penasaran kenapa? Pas banget nih lo baca artikel gue, karna diartikel ini gue akan coba menjawab rasa penasaran kalian. Namun sebelumnya coba deh lo tonton video bagaimana pembalap ternama seperti Valentino Rossi beraksi dalam lintasan menikung tajam. Cekidot?

Well, sebelum gue menjawabnnya ada baiknya untuk kita mengetahui bagaimana sepakterjang dunia MotoGp, setuju? Yuk, scrool kebawah.

Sejarah Pejalanan Balap MotoGP

Sekarang ini siapa coba yang nggak kenal dengan ajang sebesar MotoGp, hampir seluruh dunia mengetahui bagaimana ajang ini begitu sangat disukai para pecintanya. Namun, tidak semua orang yang menyukai ajang ini tau dan kapan kejuaraan balapan tingkat dunia diselenggarakan? Ada yang tahu? Yap, kejuaraan balapan tingkat dunia diselengarakan pertama kali pada tahun 1949 oleh Federation Internationale de Motocyclisme (FIM). Yah, jadi kurang lebih pada tahun tersebut ajab balap MotoGp diadakan. Fim adalah badan tertinggi yang mengatur segala bentuk kegiatan balap motor.

Pegelaran ini telah diselenggarakan secara tradisional untuk beberapa kelas motor berdasarkan kapasitas mesin dan juga kelas kelas Pada era GP 500 cc pada saat itu yaitu 50 cc, 125 cc , 225 cc , 350 ccdan 500 cc untuk motor jenis single seater , serta 350 cc dan 500 cc untuk motor sidecars.

Memasuki tahun 1950 sampai dengan 1960 motor yang menggunakan mesin 4 tak mendominasi seluruh kelas. Nah pada akhir tahun 1960an motor bermesin 2 tak mulai menguasai kelas kelas kecil dan pada tahun 1970 an motor yang bermesin 2 tak benar benar berhasil menyingkirkan motor yang bermesin 4 tak.

Selanjutnya pada tahun 1979 honda berusaha mengembalikan mesin 4 tak dijelas puncak dengan menurunkan motor model NR 500, namun proyek motor ini gagal dan bahkan kurang lebih pada tahun 1983 honda berhasil meraih kemenangan dengan motor 500 cc 4 tak miliknya.

Pada tahun 1983 untuk kelas motor 350 cc akhirnya dihapuskan , kelas 50 cc kemudian digantikan dengan oleh kelas motor 80 cc pada tahun 1984, tetapi untuk kelas yang paling banyak didominasi yaitu oleh pembalap dari spanyol dan italia ini akhirnya ditiadakan kurang lebih pada tahun 1990.

Untuk kelas sidecars juga ditiadakan dari kejuaran dunia ditahun 1990 yang menyisakan kelas motor bermesin 125 cc , 250 cc dan kelas motor mesin 500 cc. GP 500 , kelas yang menjadi puncak balap motor grand prix, telah berubah secara drasmatis pada tahun 2002.

Kurang lebih dipertengahan tahun 1970 an sampai tahun 2001 kelas puncak dari balap GP ini dibatasi 3 silinder dan kapasitas mesin yang digunakan yaitu 500 cc , baik jenis motor bermesin 4 tak dan juga 2 tak. Akibatnya yang mampu bertahan adalah mesin 2 tak, karena mesin motor 2 tak itu memiliki tenaga dan juga akselerasi yang lebih besar.

Pada tahun 2002 sampai tahun 2006 untuk pertama kalinya pabrikan di izinkan untuk memperbesar kapasitas mesinnya untuk mesin 4 tak menjadi maksimum 990 cc dan berubah menjadi 800 cc pada musim tahun 2007.

Pabrikan juga diberikan kebebasan untuk memilih jumlah silinder yang digunakan yaitu antara tiga sampai enam silinder dengan batas berat tertentu. Dengan dibolehkanya motor 4 tak yang memiliki kapasitas mesin tak ber cc besar tersebut maka kelas GP 500 diubah namanya menjadi MotoGP. Setelah tahun 2003 tidak ada lagi mesin 2 tak yang turun dalam ajang balap kelas motoGP. Untuk kelas balap mesin 125 cc dan 250 cc secara khusus masih menggunakan mesin kelas 2 tak. Untuk melengkapi artikel ini gue akan berikan daftar juara 500 cc.

  • Leslie Graham ( AJS ) Th 1949
  • Umberto Masetti ( Norton ) Th 1950
  • Geoff Duke ( Norton ) Th 1951
  • Umberto Masetti ( Gilera ) Th 1952
  • Geoff Duke ( Gilera ) Th 1953.1954,1955
  • John Surtes ( MV Agusta ) Th 1956
  • Liber Liberati ( Gilera ) 1957
  • John Surtes ( MV Agusta ) Th 1958, 1959, 1960
  • Gary Hocking ( MV Agusta ) Th 1961
  • Mike Hailwood ( MV Agusta ) Th 1962, 1963,1964,1965
  • Giacomo Agostini ( MV Agusta ) Th 1966,1967,1968,1969,1970,1971,1972
  • Phill Read ( MV Agusta ) Th 1973, 1974
  • Giacomo Agostini ( Yamaha ) Th 1975
  • Barry Sheene ( Suzuki ) 1976, 1977
  • Kenny Roberts ( Yamaha ) Th 1978,1979,1980
  • Marco Lucchinelli ( Suzuki ) Th, 1981
  • Franco Uncini ( Suzuki ) Th 1982
  • Freddie Spencer ( Honda ) Th 1983
  • Eddie Lawson ( Yamaha ) Th 1984
  • Freddie Spencer ( Honda ) Th 1985
  • Eddie Lawson ( Yamaha ) Th 1986
  • Wayne Gardner (Honda) Th 1987
  • Eddie Lawson ( Yamaha ) Th 1988, 1989
  • Wayne Rainey ( Yamaha ) Th 1990,1991,1992
  • Kevin Schwantz (Suzuki) Th 1993
  • Michael Doohan (Honda) Th 1994,1995,1996,1997,1998
  • Alex Criville (Honda) Th 1999
  • Kenny Roberts, Jr. (Suzuki) Th 2000
  • Valentino Rossi (Honda) Th 2001

Nama daftar terakhir mungkin sangat amat familliar ditelingah kalian, iyakan? Terlebih Rossi masih berada dikasta tertinggi MotoGp. Meskipun di pengujung karirnya ferforma lagi tak sementerang diera keemasan namun kapasitasnya di dunia balap tentu tak perlu untuk diragukan lagi. Berikut buktis sukses Valentino menjuarai MotoGp dengan 900 cc.

  • Valentino Rossi Th. 2002 ( Honda )
  • Valentino Rossi Th. 2003 ( Honda )
  • Valentino Rossi Th. 2004 (Yamaha)
  • Valentino Rossi Th. 2005 (Yamaha)

Era motoGP mesin 800 cc dimulai pada tahun 2007 dengan format yang baru dan berubah menjadi 800 cc dari sebelumnya 990 cc yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Disini pabrikan dibolehkan /diberi kebebasan untuk memilih jumlah silinder yang digunakan antara tiga sampai enam. Dengan dibolehkan motor 4 tak yang tak ber cc besar tersebut maka namanya dirubah menjadi motoGP.

Well, seperti janji gue diatas tadi bahwasannya gue akan menjawab bagaimana seorang pembalap tidak terjatuh meski harus belok dengan posisi yang miring nya pakek banget. Yuks, sebelumnya kita kenalan dulu dengan gaya ekstrem para pebalap MotoGp.

Mengenal Gaya Menikung Ekstrem Pebalap MotoGP

Sebelumnya, lo semua pasti takjub bangetkan dengan sudut kemiringan motor saat menikung yah bisa dibilang semua seperti diluar nalar kita. Bayangkan deh, siku, dengkul, pahan bahkan bokong para pebalap tampak seperti menggesek aspal. Padahal mereka dituntut lo untuk mencapai kecepatan 350 km per jam dan itu juga harus dilakukan saat berada ditikungan. Wow, kok nggak jatuh? Usut punya usut ternyata para pebalap motogp tersebut disokong oleh teknologi ban khusus dari Bridgestone, Bridgestone sendiri dikenal sebagai pemasok ban tunggal untuk perelatan sekalas MotoGp, dan katanya para pebalap kelas dunia ini mampu melewati tikungan dengan sudut kemiringan hingga motor hingga 64 derajat. Sudut kemiringan yang paling besar jika dibandingkan dengan kemampuan menikung motor-motor lain, termasuk motor Superbike (WSBK). Menurut hitungan, motor MotoGP bisa lebih miring 13 derajat ketimbang Superbike.

Menyaksikan para pebalap menikung memang menjadi salah satu yang mengundang decak kagum penonton, terutama jika mereka melewati tikungan beruntun chicane yang tajam. Mereka, para pebalap itu, dianggap seperti pahlawan yang gagah berani karena tanpa takut melibas tikungan hingga wajah hampir menyentuh aspal.

Kombinasi antara kecanggihan motor dan keahlian para pebalap, menurut para alhi adalah elemen hiburan terbesar yang menarik orang untuk datang ke sirkuit atau terpaku di TV menyaksikan MotoGP.

Gaya membelok ekstrem mulai diperkenalkan pada 1950-an ketika John Surtees dikritik karena bergantung pada motor MV Agusta empat silindernya ketika menikung. Surtees menyatakan bahwa ia melakukannya “untuk membuat mesin setegak lurus mungkin guna mendapatkan traksi yang maksimal.”

Pebalap Amerika Serikat Kenny Roberts Sr. adalah yang pertama memperkenalkan cara menikung ekstrem hingga lutut menyentuh trek pada akhir era 1970-an. Gaya tersebut kemudian dikenal dengan sebutan knee dragging atau menyeret lutut dan akhirnya diadaptasi oleh hampir semua pebalap.

Kemudian pada akhir 1980-an, seorang pebalap kelas 250cc dari Prancis Jean-Phillipe Ruggia memperkenalkan gaya menikung yang lebih ekstrem lagi yaitu menggesekkan sikut ke lintasan. Gaya Ruggia itulah yang kini diadopsi dan dibuat semakin populer di MotoGP oleh Marc Marquez, juara dunia kelas premium ini dua kali 2013 dan 2014. Marquez, kepada Cycle World, menyatakan bahwa ia menyukai gaya menikung itu karena “kalau sikut saya sudah menyentuh lintasan, saya merasa bisa membelok lebih tajam lagi.”

Ia juga menyatakan gaya tersebut membuatnya merasa bisa lebih mengontrol motornya. Alpinestars, produsen perlengkapan berkendara yang menjadi salah satu sponsor Marquez, bahkan sampai harus menciptakan baju balap khusus untuk pebalap asal Spanyol itu agar bagian sikut tangannya tidak cepat rusak. Walau demikian, legenda MotoGP Valentino Rossi tidak terlalu menyukai gaya menikung elbow-on-the-pavement seperti yang dilakukan Marquez.

“Saya sudah mencoba untuk memodifikasi sedikit gaya balap saya. Saya tak ingin membuat ban saya bermasalah dengan sudut kemiringan yang ekstrem seperti yang ditujukan Marc Marquez,” jelas Rossi. Para pengamat berkata bahwa gaya membalap seorang juara, seperti Rossi dan Marquez, akan selalu ditiru oleh pebalap lainnya, terutama yang lebih muda. Karena saat ini adalah era Marquez maka kita masih akan menyaksikan banyak pebalap yang menggesekkan sikut mereka ketika menikung.

Kenapa Pembalap MotoGP Waktu Belok Posisinya Miring Banget Tapi Nggak Jatuh?

Lo pasti udah penasaran bangetkan? Sebenarnya untuk menjelaskan nya agak ribet guys hehe. Jadi, gini deh kira-kira konsepnya, sejatinya setiap tikungan itu bisa dianggap sebagai gerak melingkar. Untuk tikungan yang masuk dalam kategori tajam, para pebalap biasanya memiliki jari-jari lingkaran yang sangat keci. Sementara untuk tikungan yang nggak tajam, jari-jari lingkarannya besar.

MotoGp juga ada dalam hukum fisika lho. Nggak percaya? Mungkin waktu sekolah dulu lo pasti pernah belajar kalau setiap gerak melingkar, pasti ada yang namanya percepaan sentripetal. Jawabannya adalah dengan menerapkan ilmu fisika. Ternyata, peristiwa menikung ini banyak memanfaatkan hukum fisika dan dapat dijelaskan sebagai berikut.

Hukum Inersia

Hukum inersia Hukum I Newton mengemukakan jika tidak terdapat penyebab tertentu, maka benda cenderung mempertahankan keadaan awalnya. Pada mulanya pembalap bergerak lurus ke arah tertentu, lalu tiba-tiba harus menikung. Harus ada penyebab tertentu agar pembalap dapat mengikuti lintasan jalan yang akan menikung. Dan penyebab ini adalah gesekan. Gesekan ini tercipta salah satunya dengan cara memperlambat laju kendaraan. Jadi, di sini gesekan yang merugikan justru menyelamatkan nyawa pembalap. Ketika memutar setang atau kemudi kendaraan akan melaju ke arah tertentu, ini hanyalah membantu mengarahkan kendaraannya untuk mengikuti jalur tikungan. Gaya geseklah yang tetap merupakan pahlawan utama yang menyebabkan pembalap dapat menikung. Tanpa adanya gaya gesek ini, bagaimana pun para pembalap memutar kemudi, mereka akan tetap tidak akan berhasil menikung.

Tetapi mengapa harus melambatkan kendaraan?

Ketika bergerak menikung, maka bekerja gaya Sentripetal pada pembalap. Gaya sentripetal ini bekerja menarik pembalap ke arah titik pusat lengkungan tikungan dan disuplai oleh gaya gesekan. Karena gaya sentripetal sebanding dengan kuadrat kecepatan, berarti semakin besar kecepatan motor pembalap, semakin besar gaya sentripetal yang dialami. Karena gaya gesekan sebenarnya bekerja pada permukaan yang bersentuhan antara ban motor dengan jalan, sementara pembalap dan motor adalah sebuah benda pejal, maka keberadaan gaya gesekan ini juga sebenarnya dapat menyebabkan pembalap terpuntir mengalami gerak rotasi seperti biasa terjadi pada pembalap yang mengalami kecelakaan akibat kecepatan yang terlalu tinggi pada saat menikung. Oleh karena itu, untuk menghindari hal yang sama sekali tidak diinginkan ini, pembalap harus mengurangi kecepatan. Dengan mengurangi kecepatan, maka gaya gesekan yang akan menyebabkan puntiran berkurang sehingga mereka dapat mengantisipasinya dengan memiringkan tubuh sehingga gaya puntir akibat gesekan diimbangi oleh gaya berat tubuhnya.

Jadi jelaslah bahwa gesekan sangat membantu di sini. Tetapi ada masalah lain. Ban kendaraan akan cepat aus saat ada tikungan. Bisakah kita menikung tanpa terlalu banyak mengandalkan gaya gesekan sehingga ban motor bisa awet dan keselamatan kita tetap terjaga?

Untuk mengurangi pengaruh gaya gesekan pada saat menikung, jalan biasanya dibuat miring dengan sudut kemiringan tertentu. Ini dimaksudkan agar gaya normal yang dikerjakan oleh jalan terhadap kita memiliki komponen dalam arah pusat kelengkungan tikungan. Dalam kondisi ini, maka selain gaya gesekan, komponen gaya normal juga memberi kontribusi terhadap gaya sentripetal sehingga tugas gaya gesekan menjadi jauh lebih berkurang. Dampaknya adalah gesekan ban dengan jalan jauh lebih kecil sehingga ban motor tidak akan cepat aus.

Arahnya kepusat lingkaran dan besarnya. Kalau ada percepatan sentripetal, berarti ada gaya sentripetal juga yang arahnya ke pusat lingkaran dan besarnya. Nah, pertanyaan lagi nih… pada gerak motor tadi, gaya apa yang bekerja sebagai gaya sentripetal ini?

Okay, kita udah berhasil analisis semua gaya nih. Tapi, kita belum bisa jawab pertanyaan di awal, kenapa bisa nggak jatuh meskipun miring? Nah, untuk bagian ini, lo harus ngerti dua konsep yaitu, konsep gaya Sentrifugal dan konsep Korsi.

  • Gaya sentrifugal

Gaya ini adalah salah satu contoh dari gaya fiktif, seperti gaya yang terjadi pada pengemudi ketika. Gaya fiktif kadang perlu kita masukkan dalam perhitungan ketika pengamat berada pada sistem yang dipercepat. Untuk contoh di atas, pengamat berada di dalam mobil yang dipercepat. Pada kasus MotoGP kita, gaya fiktifnya adalah gaya sentrifugal, yaitu gaya yang berlawanan arah dengan gaya sentripetal. Gaya ini sebenernya nggak ada. Tapi perlu kita masukkan dalam perhitungan karena motor seakan-akan terdorong keluar lintasan lingkaran ketika dia bergerak melingkar. Jadi, analisis gayanya menjadi begini.

  • Konsep torsi

Berikutnya, konsep torsi. Konsep torsi ini lo pelajarin di Fisika kelas 11 awal-awal semester 2 di bab dinamika rotasi. Untuk pengertian dan definisi yang lebih tepat tentang torsi, lo bisa search di google ya hehe. Intinya, supaya dia tidak berputar ke kanan atau ke kiri, maka jumlah torsi yang bekerja pada benda tersebut harus nol. Jadi agar suatu benda itu setimbang, selain \Sigma F = 0 , harus berlaku juga \Sigma \tau = 0 .

Nah, jumlah torsi ini bisa kita hitung. Ambil aja sumbu putar di roda, sehingga gaya gesek dan gaya normal menghasilkan torsi yang nol karena gaya tersebut melalui sumbu putar. Berarti, jumlah torsi yang bekerja pada motor bisa dihitung menjadi:

Nah, sekarang jelas dong kalau gitu. Kenapa nggak jatuh meskipun miring? Jawabannya, karena hubungan antara sudut kemiringan motor, kecepatan motor, dan jari-jari lintasan membuat jumlah gayanya nol dan torsinya nol juga. Kalau jumlah gaya dan torsinya nol, dia nggak akan terjatuh. Semakin kencang laju motor, maka semakin besar sudut kemiringannya. Semakin kecil jari-jarinya lintasannya atau semakin tajam tikungannya, semakin besar juga sudut kemiringannya. Pada tikungan yang tajam, jika sudut kemiringannya ingin tetap kecil, maka laju motornya harus dikurangi. Well, kalau di MotoGP sih, para pembalap itu nggak akan mau ambil opsi yang ini.

Ngomong-ngomong, berapa sih sudut kemiringan MotoGP? Kalau menurut informasi di sini sih, sudutnya bisa mencapai 64o. Ini sudut yang besar banget, memungkinkan para pembalap untuk bisa melaju sekitar 150 km/jam pada tikungan berjari-jari 86m.