Setuju nggak kalau saya bilang belajar sejarah itu menyenangkan, pasti setuju dong, iyakan? Berhubung saya amat sangat menyukai pelajaran sejarah, jadi diartikel kali saya ingin membahas sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kediri. Berbicara mengenai kerajaan kediri mungkin nama Prabu Jayabaya tak lagi asing terlebih ditelingah masyarakat jawa. Lantas bagaimana jika artikel ini dibaca oleh anda yang berada diluar pulau jawa? jelas anda akan penasaran. Tapi, tenang guys, postingan saya kali ini akan menjawab semua pertanyaan anda mengenai siapa sosok Prabu Jayabaya beserta ramalannya. 

Sebelumnya, apakah anda pernah mendengar tentang Jangka JayaBaya? Saya yakin, tentunya ini tak asing lagi dengan Ramalan Superdahsyat tentang masa depan negara kita Indonesia. Meskipun kita tidak mengetahui dengan jelas isi dan makna Jangka Jayabaya serta relevansinya bagi perkembangan Indonesia, kita pasti pernah mendengar orang-orang Jawa dahulu mengutip salah satu dari ramalan dalam Jangka Jayabaya ketika terjadi suatu peristiwa besar di bumi nusantara ini.

Misalnya, ketika bencana datang silih berganti, ada sebagian orang yang mengatakan bahwa bencana itu sudah diramalkan oleh Jayabaya dalam Jangka Jayabaya. Benarkah demikian? Untuk memahami lebih detail ada satu hal yang harus anda ketahui terlebih dahulu. Apa itu? Yaitu tentang sosok Prabu Jayabaya.

Siapakah Sebenarnya Jayabaya

Jayabaya adalah raja terbesar dari Kerajaan Panjalu atau Kadiri yang sekarang disebut Kediri. Ia memerintah dari tahun 1135 sampai 1157 Masehi. Namanya selalu dikaitkan dengan Jangka Jayabaya, yang berisi ramalan-ramalan tentang nasib Pulau Jawa. Keberhasilan dan kemasyhuran Raja Jayabaya dapat dilihat dari hasil sastra pada masa pemerintahannya.

Atas perintahnya, pujangga-pujangga keraton berhasil menyusun kitab Bharatayudha. Kitab Bharatayudha ditulis oleh Empu Sedah dan diselesaikan oleh Empu Panuluh. Kitab itu dimaksudkan untuk mengabadikan kebesaran raja dan memperingati kemenangan-kemenangan Raja Jayabaya.

Jayabaya bukan hanya seorang raja yang baik dan masyhur, namun juga ahli perbintangan. Dengan kata lain, Jayabaya adalah seorang peramal ulung. Hal itu terlihat dari ucapan-ucapannya tentang pulau Jawa Indonesia di masa depan yang terkumpul dalam Jangka Jayabaya. Ia meramal peristiwa yang akan terjadi di Pulau Jawa hingga tahun 2074 tahun Jawa. Ramalan itu sendiri dibuat ketika sang Prabu Jayabaya berdiam di Gunung Wilis.

Hingga saat ini banyak orang yang percaya bahwa ramalannya mengandung kebenaran. Oleh karena itu oleh orang Jawa beliau sangat dihormati. Sebagai maharaja yang berhasil membawa Kediri pada puncak kejayaan atau zaman keemasan, Jayabaya kemudian diberi gelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Bukti sejarah yang menerangkan masa kejayaan Kediri di bawah kekuasaan Jayabaya diantaranya berupa prasasti Hantang tahun 1135, prasasti Talan tahun 1136prasasti Jepun tahun 1144, serta Kakawin Bharatayuddha tahun 1157. Pada prasasti Hantang, atau biasa disebut prasasti Ngantang terdapat semboyan “Panjalu Jayati”, yang berarti Panjalau (Kediri) yang menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk Desa Ngantang yang setia kepada Kediri selama perang melawan Jenggala.

Prasasti ini menguraikan tentang kemenangan Panjalu terhadap Jenggala pada zaman pemerintahanRaja Jayabaya. Ungkapan Panjalu Jayati dalam prasasti Ngantang tidak dapat ditafsirkan lain, kecuali kemenangan Panjalu atas Jenggala. Sebab, pada waktu itu, dua kerajaan tersebut bersaing dan berusaha saling menghancurkan. Berkat kesetiaannya kepada Sang Prabu, penduduk Ngantang mendapat hadiah tanah perdikan dengan hak-hak istimewa.

Prof. Sutjipto Wirjosuparto mengaitkan prasasti Ngantang dengan karya sastra Bharatayudha dalam karyanya Kakawin Bharatayudha. Ia mengatakan bahwa anugerah tanah perdikan Ngantang itu bertalian dengan kemenangan Jayabaya dalam peperangan melawan kakaknya yang dalam Kakawin Bharatayudha disebut Hemabhupati. Dengan bangga ia mengatakan bahwa baru dalam tesisnya tentang Gatotkacasraya, hubungan perang yang diadakan oleh Jayabaya dan Hemabhupati atau kakak Raja Jayabaya diuraikan panjang lebar.

Pada dasarnya, uraiannya tidak lain merupakan tafsiran gelar atau sebutan Hemabhupati. Gelar tersebut mengandung unsur hema yang berarti mas. Dalam bahasa Jawa, masih ada beberapa gelar atau sebutan yang mengandung unsur mas, seperti kakangmas, adimas, ratu mas, dan lain-lain. Diantara sebutan yang masih ada itu, Prof. Sutjipto Wirjosuparto memilih kakangmas. Demikian Prof Sutjipto Wirjosuparto menafsirkan sebutan Hemabhupati itu kakak Jayabaya. Karena Jayabaya berhasil mengalahkan kakaknya, maka ia berhasil merebut kekuasaan dan menjadi raja di Panjalu.

Dengan demikian, dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Jenggala dan mempersatukannya kembali dengan Kediri. Kemenangannya atas Jenggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam Kakawin Baratayudha yang digubah oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh pada tahun 1157.

Sedangkan prasasti Talam memuat keterangan bahwa penduduk Desa Talan yang termasuk wilayah Panumbangan menghadap raja dan memperlihatkan prasasti di atas daun lontar dengan cap Kerajaan Garudamukha yang telah mereka terima dari Batara Guru pada tahun 961 Saka 27 Pebruari 1040 Masehi.

Prasasti tersebut menetapkan Desa Talan sewilayahnya sebagai sima yang bebas dari kewajiban membayar berbagai macam pajak. Mereka memohon agar prasasti itu dipindahkan ke atas batu dan ditambahi anugerah Raja Jayabaya sendiri.

Karena penduduk Desa Talan telah memperlihatkan kesetiaannya yang amat besar kepada raja, permohonan tersebut dikabulkan. Oleh karena itu, di pindahkanlah prasasti itu ke atas batu dengan cap Kerajaan Narasingha, dan Raja Jayabaya menambah anugerah berupa berbagai macam hak istimewa. Sayangnya tidak dijelaskan di dalam prasasti apa jasa-jasa rakyat Desa Talan terhadap Bhatara Guru, yaitu Airlangga, dan terhadap raja Jayabaya. Yang jelas, prasasti Talan menjadi salah satu bukti kekuasaan Jayabaya di Kediri.

Semua pihak berpendapat bahwa Prabu Jayabaya sangatlah bijak dan kuat tirakatnya dalam mengemban tugas negara. Salah satu contohnya adalah ketika dihadapkan pada persoalan negara. Untuk memecahkan persoalan negara yang pelik tersebut, sang Prabu disertai oleh permaisuri Ratu Pagedhongan, disertai pula oleh beberapa menteri terkait, melakukan perenungan di Padepokan Mamenang, memohon petunjuk Gusti.

Perenungan bisa berlangsung beberapa hari, minggu, bahkan sebulan, sampai mendapatkan jawaban atau petunjuk dari Dewata Agung mengenai langkah yang harus dilakukan demi kebaikan kawula dan negara. Selama masa perenungan di Mamenang, raja dan ratu hanya menyantap sedikit kunyit dan temulawak 3 buah sebesar jari telunjuk, serta minum secangkir air putih segar yang langsung diambil dari mata air, sehari cukup 2 atau 3 kali. Sedangkan para menteri hanya menyantap semangkuk bubur jagung dan secangkir air putih setiap waktu makan.

Setelah mendapatkan jawaban atau petunjuk, solusi, raja dan rombongan kembali ke istana di Kediri. Kemudian di istana diadakan Pasewakan Agung, rapat kerajaan yang dipimpin oleh raja. Di kesempatan tersebut, raja mengumumkan kebijakan yang diambil kerajaan dan mesti dijalankan serta ditaati seluruh pejabat kerajaan maupun kawula.

Apa yang telah diputuskan dan diucapkan oleh raja di depan rapat itu disebut “Sabdo Pandito Ratu”atau “Sabdo Brahmono Rojo”, harus diterima dan dilaksanakan oleh semua pihak, termasuk raja sendiri. Jadi, seorang raja atau pemimpin itu harus memenuhi janji, apa yang diucapkan harus ditepati, tidak boleh mencla-mencle atau ingkar janji.

Jayabaya Dalam Tradisi Jawa

Popularitas Jayabaya sejatinya sudah melekat dalam ingatan masyarakat, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya. Contoh, naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa. Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.

Istri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.

Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang. Prabu Jayabaya adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.

Dikisahkan dalam Serat Jayabaya Musarar, pada suatu hari Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama tersebut, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat.

Dari nama guru Jayabaya di atas dapat diketahui kalau naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya Islam di Pulau Jawa. Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis ramalan-ramalan Jayabaya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar. Maka, si penulis naskah pun mengatakan kalau ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kediri.

Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita sering disebut sebagai penulis naskah-naskah Ramalan Jayabaya. Akan tetapi, Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah Ramalan Jayabaya pada umumnya bersifat anonim. Identitas yang tidak diketahui tersbut membuat banyak orang meyakinkan akan ramalan-ramalan Prabu Jayabaya diyakini menjadi kenyataan. Anda boleh percaya atau tidak, namun berikut ini adalah ramalan yang dipercaya menjadi kenyataan. 

Pulau Jawa Bakal Terpecah

Sebelum saya ngomongin Pulau jawa, saya mau bercerita soal Atlantis yang masih jadi misteri dunia. Banyak yang nyangka bahwa Atlantis beradi di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Arysio Santos, PhD adalah salah satunya. Dalam bukunya diceritakan bahwa 11.600 tahun yang lalu, atlantis adalah sebuah negeri tropis yang berlimpah akan mineral dan kekayaan hayati. Karena bencana yang dahsyat, pada akhirnya, pulau jawa terpisah dari Sumatera dan lebih dari separuh wilayah Nusantara tenggelam.

Sebenarnya, apa yang ada dalam buku tersebut udah dijelasin di Kitab Jangka Jayabaya. Dilansir dari Merdeka, menurut Ki Tuwu, pakar ahli sejarah Kediri, hal itu masuk ke periodisasi zaman besar kedua yang disebut dalam Kitab Jangka Jayabaya adalah Zaman Kalijaga, berarti zaman tumbuhan. Pulau Jawa yang saat itu masih menyatu dengan pulau-pulau lain mengalami sebuah perubahan, yakni terpecah jadi pulau-pulau kecil.

Korupsi Merajalela

Siapa coba yang nggak jengah sama kasus korupsi di dunia ini? Saya rasa semua orang tak menginkan hal sedemikian. Namun apa boleh dikata korupsi sepertinya udah menjadi budaya dan praktik yang dilakukan sejak berabad-abad. Bahkan, korupsi udah ada sejak zaman kerajaan kuno walaupun dengan bentuk yang berbeda dengan korupsi zaman sekarang. Nah, anda tahu nggak kalau Jayabaya udah pernnah ngeramalin bahwa korupsi bakal terus terjadi.

“Akeh janji ora ditetepi, akeh wong nglanggar sumpahe dewe. Akeh menungso mung ngutamakke duwit, lalu kemenungsan, lali kebecikan, lali sanak lali kadang.

Artinya, banyak janji enggak ditepatin, banyak orang ngelanggar janji, banyak orang yang ngutamain uang di atas kemanusiaan, lupa kebaikan, lupa keluarga, dan lupa dari mana asalnya. Perkataan Jayabaya tersebut merepresentasikan orang yang selalu nempatin uang sebagai prioritas yang bikin dirinya lupa sama kebaikan dan kemanusiaan.

Mendapat Kekayaan Yang Nggak Wajar

Tradisi pergi ke dukun atau ngelakuin pesugihan, nyatanya, masih dilakuin oleh orang-orang zaman sekarang. Tujuannya ialah ngedapatin kekayaan tanpa harus bekerja. Makanya, sampai sekarang, pola pikir orang Indonesia enggak berubah. Pengen kaya, tapi enggak kerja. Banyak yang akhirnya menghalalkan segala cara demi sebuah gengsi. Hal itu menjadikan banyaknya praktik pesugihan di Indonesia.

“Akeh wong nyambut gawe apik-apik pada krasa isin. Luwih utama ngapusi. Wegah nyambut gawe kepengen kepenak, ngumbar nafsu angkara murka, nggedekake duraka.”

Artinya, akan ada masanya banyak orang yang bekerja, namun merasa malu, akhirnya memilih menipu. Akan ada juga orang yang mau kaya, tapi malas bekerja. Akhirnya, mereka menghalalkan segala cara satunya dengan metode pesugihan. Pesugihan merupakan kegiatan menyembah setan demi kekayaan dengan aneka tumbal sebagai penebusnya. Tentu saja ini termasuk ilmu hitam. Udah pasti diharamkan.

Seks Bebas Dimana-mana

Entah kebetulan lagi atau enggak, Ramalan Jayabaya mengenai pergaulan remaja kayaknya benar-benar terjadi. Zaman sekarang, semua udah kebalikan dengan zaman sebelumnya. Dulu, hubungan seks merupakan hal yang sangat tabu. Nyatanya, kini udah jadi hal yang harap dimaklumi walaupun udah jelas-jelas ngelanggar norma.

“Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang prawirane.”

Artinya, cewek-cewek kehilangan rasa malunya dan cowok-cowok juga hilang kehormatannya. Kalau dikaitin sama zaman sekarang, kayaknya ramalan tersebut memang menyangkut perilaku seks bebas. Zaman dulu, kalau pegangan tangan atau ciuman aja, takut hamil. Sekarang, malah rasa takut itu terkikis.

Pendidikan Dikomersialisasi

Pendidikan yang katanya gratis selama 12 tahun ini nyatanya belum benar-benar gratis. Ditambah, pendidikan yang merupakan hak bagi setiap warga negara belum merata. Memang, pendidikan bisa didapat dari mana aja. Namun, pola pikir masyarakat Indonesia menganggap pendidikan itu cuma dari sekolah formal. Bahkan, sekarang, udah ada sekolah formal dan informal alias setelah belajar di sekolah lanjut belajar di tempat kursus.

“Akeh wong ngedol ilmu.”

Artinya, banyak orang jual ilmu. Padahal, ilmu, ‘kan, pundi-pundi pahala. Seharusnya, orang ikhlas ngasih ilmu ke siapa pun. Namun, itu enggak berlaku di zaman sekarang. Pendidikan beserta mutunya harus ditukar dengan jumlah pundi-pundi rupiah yang setimpal. Enggak heran, pendidikan sekarang ini jadi ladang bisnis bagi siapa pun yang bersangkutan.

Munculnya Pesawat Terbang Dan Kereta Api

Dalam Kitab Jangka Jayabaya banyak mengeluarkan sindiran untuk kehidupan di masa depan seperti sekarang. Jayabaya bisa memprediksi akan muncul pesawat terbang dan kereta api, seperti ungkapan JayaBaya berikut:

“Mbesuk yen ana kereta mlaku tanpa jaran, tanah Jawa kalungan wesi, prahu mlaku ing duwur awang-awang, kali ilang kedunge pasar ilang kumandange. Iku tanda yen tekane jaman Joyoboyo wis cedak”

Kalau diterjemahkan besok kalau sudah ada kereta berjalan tanpa kuda, tanah Jawa berkalung besi  artinya adanya kereta api, perahu berjalan di atas angkasa artinya terciptanya pesawat terbang. Sungai hilang kedungnya artinya kehilangan sumber air dan ini sudah terbukti, termasuk pasar hilang kumandangnya, di mana zaman dahulu pasar di pagi hari seperti suara lebah karena suara pedagang dan pembeli bisa terdengar di radius 5 km.

Bangsa Kulit Kuning Datang Ngelepasin Indonesia Dari Kekejaman Kulit Putih

Pernah dengar kan kalau masa penjajahan Belanda di Indonesia katanya sampai 3,5 abad alias 350 tahun? Nah, penjajahan tersebut pastinya sangat membekas bagi bangsa Indonesia. Ketika Belanda masih menjajah, datanglah bangsa Jepang yang kemudian ngerebut Indonesia dari penjajahan Belanda.

Nyatanya, hal itu udah pernah diprediksikan oleh Jayabaya. Bakal ada masanya datang kulit kuning yang ngelepasin Indonesia dari kekejaman kulit putih. Kulit kuning yang dimaksud adalah orang Jepang, sedangkan kulit putih yaitu orang Belanda. Hmm, ini kebetulan atau bukan, ya?

Ramalan-ramalan yang udah saya sebutin diatas memang sesuai kalau dikaitin dengan zaman sekarang. Namun sekali lagi saya tegaskan, ramalan tentu hanyalah bersifat prediksi alias sesuatu yang belum tentu pasti terjadi. Jadi, anda nggak perlu terlalu khwatir, anda hanya harus menjunjung tinggi pedoman hidup anda dan selama anda masih percaya akan adanya tuhan, tentu tidak akan ada satupun manusia yang mampu menakar segalanya. Terimah kasih telah berkunjung diartikel saya, sampai jumpa kembali.