Mungkin lo termasuk yang gempar kalau ngelihat media sosial beberapa hari ini. Soalnya tersiap kabar pernikahan seorang ABG dengan seorang nenek di Desa Karang Endah, Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Yap, mereka adalah Slamet Riyadi (16) dan Rohaya binti Kiagus Muhammad Jakfar (71). Meski banyak orang mengecam, keduanya tetap melangkah di pelaminan. Sejoli ini pun mendadak jadi sorotan netizen. Enggak kalah sama drama-drama Korea, romantika keduanya jadi objek perhatian yang memikat dan bikin penasaran. Hmm, sebenarnya bagaimana sih cerita dibalik hubungan pasangan fenomenal ini? Yuks, mari kita lihat.

Dari Jatuh Sakit Sampai Jatuh Cinta

Slamet yang ditinggal oleh ortunya dirawat oleh Rohaya. Tiga tahun yang lalu, Slamet terserang malaria. Rohaya pun merawatnya. Dari situ tumbuh benih-benih cinta dalam hati Slamet. Dilansir BBC Indonesia, pemerhati pernikahan anak dari Women Crisis Center, Yenni Izzi, mengatakan bahwa kasus pernikahan ini agak berbeda. Secara psikologis, kata Yenni, Slamet yang masih tergolong anak memilih menikah supaya terus mendapat perhatian dari Rohaya.

“Dia ngerasa mendapat kebahagiaan dan kenyamanan. Ngerasa diperhatiin, dikasihi dan disayangi. Kondisi itu membuat dia jatuh cinta kepada Ibu Rohaya,” ungkap Yenni, “Pikirannya masih pendek. Dia mau mendapat perhatian yang penuh, jadi harus hidup bersama. Hidup bersama, ya menikah.”

Slamet Mencintai Rohaya Apa Adanya

Banyak yang berspekulasi bahwa Slamet ingin menikahi Rohaya karena harta. Nyatanya Rohaya bukan dari keluarga orang kaya. Bahkan bisa dikatakan hidup Rohaya masih penuh kekurangan. Buat menyambung hidup aja, Rohaya masih bergantung kepada keluarganya, kayak kakaknya dan anak-anaknya.

Selain itu, rumah Rohaya begitu kecil dengan ukuran 4 x 5 meter. Di dalamnya hanya ada dua lembar tikar lusuh. Enggak ada perabot elektronik semacam TV dan AC. Rohaya juga enggak punya hape.

Sempat Mengancam Bunuh Diri

Awalnya hubungan mereka enggak direstui oleh masyarakat di sekitar mereka. Bahkan keluarga kedua belah pihak juga menentang. Akhirnya Slamet mengancam buat bunuh diri jika dia enggak dibolehin nikahin Rohaya. Kepala Desa Karang Endah, Cik Ani, mengaku pernah didatangin oleh Slamet yang minta buat dinikahin sama Rohaya.

“Saya enggak bisa menghalangi mereka. Soalnya Slamet ngancam mereka berdua bakal minum racun jika dihalangi-halangi menikah,” ungkap Cik Ani.

Akad Nikah Di Malam Hari

Karena ancaman dari mereka, masyarakat dan pihak keluarga jadi enggak punya pilihan lain. Akhirnya pernikahan dilaksanakan (2/7). Namun Rauf, kakak Rohaya minta agar ijab kabul dilaksanakan di malam hari dan bukan di tempat terbuka kayak balai desa. Dia khawatir kalau pernikahan ini mengundang kehebohan.

Sayangnya kabar ini udah sampai duluan di telinga warga. Ratusan warga desa setempat dan tetangga ikut berdatangan. Suasana makin riuh dipenuhi sorak-sorai saat Slamet mengucapkan ijab kabul dengan lantang. Biaya akad nikah pun ditanggung secara bersama-sama oleh aparat desa dan para warga yang bersimpati.

Mahar Senilai Rp200 Ribu Sebagai Bukti Cinta

Sebagai bukti kesungguhan cintanya kepada Rohaya, dia ngasih uang senilai Rp200 ribu buat mas kawin kepada Rohaya. Mungkin buat lo uang segitu ini enggak seberapa. Namun buat Slamet yang merupakan anak yatim piatu dan belum punya pekerjaan yang tetap, Rp 200 ribu enggak gampang dicari.

Pernikahan Dengan Slamet Bukan Yang Pertama Buat Rohaya

Keluarga Rohaya termasuk yang menentang hubungan mereka pada awalnya. Slamet merupakan suami ketiga Rohaya. Dua suami sebelumnya udah meninggal sejak lama. Dari pernikahan sebelumnya, Rohaya udah punya lima cucu dari dua anaknya. Akhirnya keluarga ngasih restu hubungannya dengan Slamet yang terpaut usia 55 tahun demi Rohaya yang ingin memiliki teman hidup di masa tuanya.

Punya Panggilan Sayang

Sebelum nikah, keduanya udah tinggal serumah karena Slamet enggak punya ortu. Selama itu, Slamet memanggil Rohaya dengan sebutan “bibi”. Sekarang lain halnya ketika mereka udah sah jadi suami istri. Rohaya harus berjuang menyesuaikan diri dengan panggilan “Bunda”.

Slamet Sangat Posesif Terhadap Rohaya

Ternyata Slamet adalah tipe suami yang posesif. Kadar cemburunya yang berlebih itu bisa dilihat dari cara Slamet memperlakukan istrinya. Rohaya bilang bahwa dirinya dikunci di dalam rumah kalau suaminya itu lagi pergi. Soalnya Slamet terlalu sayang kepada Rohaya sehingga timbul rasa cemburu yang berlebihan.

“Dio ini cemburu nian, aku dikuncinyo dari luar. Dio takut aku melirik-lirik laki-laki lain,” ungkap Rohaya.

Rencana Hidup Kedepan

Slamet hanyalah lulusan sekolah dasar. Dalam kesehariannya, dia hanya bekerja sebagai buruh yang bertugas membersihkan kebun. Penghasilannya memang belum seberapa dari kerja serabutan ini. Namun Slamet punya rencana buat nafkahin keluarga kecilnya lebih layak dengan cara berkebun.

“Sekarang, lahan kebun memang belum ada. Jadi, sementara ini gua bakalan kerja kayak biasa, mencari upahan di kebun orang,” ceritanya kepada TribunSumsel.

Mengharapkan Keturunan

Yang namanya pernikahan, udah tentu tujuannya membangun keluarga. Slamet berkeinginan punya anak dari Rohaya. Enggak perlu banyak, satu aja. Bahkan Slamet udah nyiapin nama. Kalau cowok, namanya Andre Maulana, sedangkan kalau cewek, dikasih nama Putri Permata Sari.

Meski demikian, Slamet sadar bahwa Rohaya udah masuk masa menopause dan enggak bisa bereproduksi. Namun hal ini enggak bikin Slamet menyerah dalam keadaan.

“Kalau memang enggak bisa, kami mau adopsi aja,” ujar Slamet.

Setelah ngikutin cerita mereka, pasti timbul rasa simpati dalam hati lo. Soalnya hubungan mereka bisa dibilang berbeda dari kisah cinta pada umumnya. Namun keduanya enggak nyerah begitu aja sama keadaan dan berani memperjuangkan cinta mereka. Nah, kisah cinta lo sendiri bagaimana? Kalau dihadapkan sama hambatan yang besar, seberapa berani lo dan si dia ngelewatinnya?