Menghabiskan waktu satu tahun di luar angkasa ternyata bukan hal yang mudah. Buktinya, saat tiba di Bumi pada 2 Maret 2016, seorang astronaut NASA bernama Scott Kelly ngeluhin banyak hal buruk yang terjadi pada dirinya. Memang, menghabiskan 340 hari di luar angkasa merupakan pengalaman hebat baginya sekaligus membuatnya menderita setiba di Bumi. Banyak orang yang memiliki impian untuk hidup di luar angkasa.

Apalagi, saat ada rencana untuk mengirimkan manusia ke Planet Mars dan membangun koloni di sana. Nah, buat lo yang bermimpi sama, lo harus kepoin curhatan Kelly tentang kehidupannya menetap selama setahun di luar angkasa. Kayak apa, sih, kehidupan yang dijalaninya? yuks, simak ulasan berikut ini.

Kesedihan Yang Dirasakan Sang Anak

Kelly enggak ngejalanin misi sendirian. Bersama rekan kerjanya Mikhail Kornienko dari Rusia, Kelly ngelakuin one-year mission yang membuatnya harus tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) selama setahun. Keduanya meluncur dari Baikonur, Kazakhstan, pada 28 Maret 2015.

Siapa yang enggak sedih ditinggal salah satu anggota keluarga ke tempat yang jauh, bahkan ke luar Bumi. Hal itulah yang dirasain oleh Charlotte Kelly, anak Kelly, ketika ngelihat sang bokap bekerja dengan meninggalkan Bumi.

“Gua senang bercampur sedih karena bokap pergi ninggalin Bumi buat waktu yang lama. Ini adalah keempat kalinya dia mengorbit di luar angkasa. Tiga hari sebelum bokap meluncur, gua melihat roket Rusia yang bakal mengangkutnya,” ungkap bocah berusia 11 tahun tersebut kepada Time.

Charlotte pun mengaku, saat itu perasaannya berkecamuk, membayangkan sang bokap diterbangin ke luar Bumi buat satu tahun lamanya. Seiring roket diluncurkan ke angkasa, dia mengaku itulah pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan. Tangan Charlotte sempat diremas selama 10 detik oleh kakaknya, Samantha, saat roket lepas landas.

Impian Berkumpul Bersama Keluarga

Setelah setahun di ruang hampa udara, Kelly akhirnya bisa berkumpul bersama keluarga. Banyak hal yang membuat dirinya sadar pentingnya keluarga. Meski bisa berkomunikasi lewat video call, Kelly tetap memimpikan bisa family time setiap harinya.

Dilansir dari SMH, Kelly mengungkapkan rasa bahagianya bisa makan malam bersama keluarga, termasuk saudara kembarnya, Mark Kelly, yang juga seorang astronaut. Kalau biasanya dia hanya makan sendirian dengan makanan keringnya, kini enggak lagi.

“Meskipun sederhana, duduk di meja dan makan bersama orang yang dicintai adalah sesuatu yang telah gua impikan selama hampir setahun. Padahal, banyak orang ngelakuinnya setiap hari tanpa mikirin itu,” ujar Kelly.

Kelly juga bercerita, saat duduk di meja makan dan ngelihat alat makan enggak bergerak, dia ngerasa aneh. Biasanya, makanan dan alat makan selalu melayang di ISS. Kelly harus mengikatnya agar bisa makan dengan nyaman. Selain itu, suara-suara denting piring dan sendok, obrolan sana-sini, dan candaan anak-anaknya bikin dirinya senang karena enggak ada keramaian seperti itu di ruang hampa udara.

Kondisi Tubuh Jadi Enggak Stabil

Lewat misi one-year mission, Kelly dan rekannya ngelakuin uji coba mengetahui bagaimana tubuh manusia jika tinggal dalam waktu panjang dengan kondisi gravitasi nol. Selain kondisi fisik, dari misi ini juga bakal diketahui bagaimana kondisi psikologis dan biomedis jika berada lama di luar angkasa. Nantinya, kondisi tubuh Kelly juga akan dibandingan dengan saudara kembarnya sebagai astronaut yang bertugas di Bumi.

Hidup di lingkungan minim gravitasi selama 340 hari membuat tulang Kelly kehilangan kepadatan dan lebih rawan patah. Soalnya, Kelly jadi jarang menggunakan kakinya buat bergerak. Dia mengambang layaknya berenang buat berpindah dari satu ruang ke ruang lainnya di kapal antariksa. Untungnya, di ISS disediakan alat olahraga meski dia harus mengikat diri untuk treadmill atau bersepeda statis selama 2 hingga 2,5 jam per harinya.

Kelly juga ngerasain kemampuan penglihatannya berkurang saat tiba di Bumi. Hal itu juga jadi salah satu riset penelitian meski hingga saat ini belum diketahui penyebab pastinya. Susunan tulang belakang Kelly juga jadi lebih longgar. Alhasil, tinggi Kelly saat tiba di Bumi bertambah hingga 5 sentimeter. Namun, itu enggak berlangsung lama karena kembali seperti semula akibat gravitasi Bumi. Bahkan, dia terlihat lebih muda dibanding kembarannya.

Kelly juga ngerasain efek samping pada kulit di tubuhnya. Otot sekujur tubuh Kelly juga lebih mudah lelah setelah tiba di Bumi. Soalnya, jarang digunakan buat aktivitas berat di ISS. Ini membuat kemampuan motorik Kelly menurun drastis.

Enggak hanya dampak fisik, dilansir dari Business Insider, menurut Profesor Onkologi Radiasi, Barry Rosenstein, radiasi matahari yang diterima Kelly di luar angkasa telah meningkatkan risiko kanker pada tubuhnya. Radiasi adalah masalah terbesar yang dihadapi astronaut saat ngelakuin perjalanan ke Mars nantinya. Di ISS, para astronaut mendapatkan radiasi 20 kali lebih besar dari pada manusia yang berada di Bumi.

“Bisa dibayangkan, jika manusia ngelakuin perjalanan ke Mars, bakal ada ratusan kali lipat, mungkin 300 kali terpapar radiasi,” tutur Graham.

Selain itu, ketika berada di wahana, sistem jantung enggak bekerja sekeras di Bumi. Pasalnya, sama fungsinya seperti tulang dan otot, jantung didesain buat bekerja dalam gravitasi Bumi. Jadi, kalaupun dibawa ke luar angkasa, jantung tetap bekerja meski berbeda dan berubah ukurannya. Efek ringannya bisa menyebabkan pingsan sesaat. Sedangkan, efek jangka panjangnya bisa menyebabkan penyakit jantung koroner.

Untuk itu, NASA telah merancang program latihan spesifik yang diarahkan untuk menjaga para awak tetap sehat bugar selama di luar angkasa.  Ruang mikrogravitasi bisa mengakibatkan atrofi atau penyusutan jaringan otot dan saraf, serta tulang keropos. NASA akan merencanakan jadwal latihan baru selama misi satu tahun itu.

“Dua penelitian akan mengevaluasi latihan dan pemantauan teknologi demi melindungi tulang dan otot, serta mengukur perubahan di sekitar pangkal paha. Area pangkal paha adalah yang paling rawan dari tulang-tulang keropos,” kata Human Research Program NASA, John Charles. Mereka juga akan manfaatkan sejumlah teknologi seperti pemindai MRI dan ultrasound untuk melihat perkembangan otot.

Dampak Pada Psikologi

Selain perubahan kondisi tubuh, misinya juga berdampak pada perubahan kondisi psikologis. Berada di tempat yang jauh, bukan habitat aslinya, dan hanya ditemani beberapa orang, itulah yang dirasain oleh Kelly. Selama satu tahun, kerinduannya hanya dirasakan secara virtual.

Selain aspek tubuh, misi tersebut juga meneliti kondisi psikologis para astronaut. Kondisi dini yang dirasakan Kelly adalah menurunnya nafsu makan dan membesarnya keinginannya buat segera bertemu dengan keluarganya. Kondisi otaknya pun masih menyesuaikan diri di Bumi.

Kelly masih enggak menyangka bisa kembali dengan selamat di Bumi. Bahkan, saat mendapat tugas tersebut, Kelly harus berpikir matang. Soalnya, misi tersebut punya banyak sekali risiko yang harus dihadapi, termasuk risiko terberat.

Rindu Sentuhan Manusia

Setelah sampai di Bumi pada 2 Maret 2016, Kelly bisa menceritakan kisahnya di ISS selama hampir satu tahun. Menurutnya, dia berat ninggalin ISS karena bisa jadi enggak bakal mengunjunginya lagi. Namun, dia memilih buat kembali ke Bumi.

Astronaut asal Amerika tersebut juga mengatakan bahwa dirinya merasa enggak bermasalah secara fisik. Namun, secara psikologis, Kelly mengakui satu-satunya hal yang benar-benar dirindukannya adalah kontak fisik dengan keluarganya.

“Gua enggak tahu apakah ini termasuk aspek psikologis. Namun, pasti ada rasa-rasa seperti kehilangan hubungan dengan orang-orang di Bumi yang mencintai lo dan lo mau menghabiskan waktu bersama mereka. Gua pikir itu adalah sebuah tantangan,” Kata Kelly kepada Space.

Rasa Prihatin Ngelihat Bumin Dari Luar Angkasa

Berdasarkan pantauan Kelly selama di ISS, kondisi Bumi banyak terlihat kerusakan. Dari luar Bumi, kengerian soal pemanasan global itu begitu nyata. Enggak lupa, Kelly pun mengabadikannya dan mempostingnya di Twitter.

“Gua bisa ngelihat banyak polusi di kawasan Asia yang terjadi terus-menerus. Bahkan, sulit buat ngelihat permukaannya dengan baik. Asap akibat kebakaran di California selama musim panas juga menyebar sangat luas,” keluh astronaut berusia 53 tahun itu kepada News Week.

Kelly juga khawatir dengan Bumi di masa depan. Pasalnya, kini atmosfer Bumi makin tipis dan rapuh. Apalagi, hal itu dikombinasikan dengan luasnya polusi dari seluruh penjuru dunia. Tentunya, ini kian mengkhawatirkan.

Fakta Kehidupan Scott Kelly Selama Setahun

Kelly berhasil menciptakan banyak pencapaian yang belum tentu bisa dilakuin oleh astronaut lainnya dalam waktu dekat. Dilansir New York Times, selama 340 hari di ISS, Kelly meminum 193 galon air yang merupakan hasil daur ulang keringat dan air seninya.

Kelly berhasil mengerjakan 400 penelitian ilmiah hebat, termasuk menanam bunga pertama di luar angkasa bersama rekannya dalam misi tersebut. Kelly telah mengitari Bumi hingga 5.440 kali dalam ISS dengan kecepatan 27.359 kilometer per jam. Total, Kelly ngelakuin perjalanan sejauh 231.498.542 kilometer. Jarak ini sama dengan sekali perjalanan ke Mars.

Selain itu, Kelly telah ngelihat 10.944 kali matahari terbit dan terbenam. Di Bumi, angka ini baru bisa tercapai oleh manusia selama 30 tahun. Dia juga berolahraga lebih dari 700 jam. Lebih tepatnya, sekitar 1.043 kilometer berlari di treadmill khusus yang dibuat untuk astronaut. Kelly udah memposting 713 foto di Instagram selama di ISS. Dia juga mempunyai 4,65 juta pengikut di Twitter dan berinteraksi lebih dari 2.000 kali dengan pengikutnyanya ketika masih di ISS.

  • Sistem Kekebalan Tubuh Berubah

NASA akan memantau sistem imun Kelly untuk melihat apakah misi satu tahun di luar angkasa mengganggu kondisi tubuhnya. Sementara para peneliti khawatir terjadi risiko tinggi terhadap aterosklerosis atau pengerasan pembuluh darah. “Penerbangan luar angkasa mengakibatkan pengaruh negatif bagi kesehatan.

Penyebabnya itu berasal dari mikrogravitasi, radiasi, ataupun isolasi dan keadaan stres,” ujar ahli imunologi dari NASA, Brian Crucian. Menurut Crucian, sistem kekebalan tubuh berpotensi dipengaruhi oleh hal-hal tersebut, terutama ruang mikrogravitasi yang secara langsung bisa menghambat fungsi sel imun.

Pada intinya, penelitian yang dilakuin Kelly di harapkan bisa ngasih pencerahan pada NASA soal keselamatan manusia dalam misi-misi luar angkasa atau deep space, seperti perjalanan ke Mars. Kalau dilihat dari curhatannya, Kelly bersama rekannya dalam misi one-year mission ini rela ngorbanin dirinya demi keberlangsungan hidup manusia Bumi di masa depan.

Nah guys lo juga mau jadi astronaut? Kalau iya, lo harus siap sama hal-hal sulit kayak yang udah dijalanin oleh Scott Kelly.