Ada satu kota unik di tanah Papua yang berani tampil beda dari kota-kota lain di Indonesia, yakni Agats. Kota Agats adalah ibu kota dari Kabupaten Asmat di Papua. Kota Agats atau lebih dikenal sebagai Kota Lumpur memiliki keunikan tersendiri. Seluruh bangunan rumah di kota dengan jumlah penduduk 76 ribu jiwa, dibangun di atas papan. Konon berdasarkan mitos yang beredar di masyarakat, kota ini jaman dahulu terdapat sebuah kutukan sehingga seluruh dataran tanah disini tidak bisa kering dan selalu berlumpur.

Yaps, kota ini menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang dibangun di atas papan kayu. Bahkan kota ini menjadi satu-satunya di dunia. Mungkin dengan keunikan kota ini membuat kota agats terkenal hingga mancanegara.

Kota Agats dibangun pada tahun 1936 oleh pemerintah Belanda. Awalnya Kota Agats difungsikan sebagai pos pemerintahan Belanda. Warga Asmat, salah satu suku di Papua menyebut pos pemerintahan ini dengan sebutan Akat. Akat artinya bagus atau baik. Namun karena lidah orang Belanda kesulitan untuk mengucapkan kata Akat, sehingga namanya diubah menjadi Agats.

Yah, kota ini dibangun di atas ribuan papan dengan tiang pancang dari kayu. Semua infrastruktur yang ada di Kota Agats dibuat di atas papan. Mulai dari perkantoran, perumahan sampai dengan jalan rata. Semuanya dibangun dengan kontruksi panggung. Pembangunan di atas papan kayu ini disebabkan kondisi tanah di Agats berupa rawa-rawa berlumpur. Meski dibangun di atas papan kayu, namun kayu yang digunakan tidak sembarangan. Pembangunan yang berlangsung di Kota Agats tentu saja dengan kayu yang awet dan kokoh, contohnya kayu besi. Kayu besi semakin ditancapkan ke tanah berlumpur justru akan semakin kuat.

Konon katanya ada seorang pastor dari Belanda namanya Jan Smith. Beliau datang ke Papua untuk menyebarkan agama Kristen di kawasan suku Asmat. Dalam usahanya menyebarkan agama tersebut, sang Pator pun sering mendapat pertentangan dan perlawanan dari orang-orang setempat yang saat itu masih sangat memegang erat kebudayaan leluhurnya. Sampai suatu hari sang pastor dinyatakan meninggal dunia yang sebabnya masih menjadi misteri. Sebelum meninggal itu, sang pastor sempat berkata bahwa tempat ini (Kota Agats) akan selalu basah terus dan tidak bisa dijadikan tempat tinggal. Dari kejadian itu banyak warga yang mempercayai bahwa hal tersebut terlihat seperti kutukan.

Semua jalanan di kota ini dibangun menggunakan papan kayu. Kendaraan mobil tidak bisa memasuki kota ini, sehingga penduduk hanya bisa memiliki dan menggunakan kendaraan seperti sepeda, sepeda motor dan sepeda motor listrik. Pada dasarnya, aktivitas yang berlangsung di Kota Agats hampir sama dengan kota-kota lain di Indonesia. Seperti sekolah, bekerja, berolahraga, bermain dan lain-lain. Hal yang menjadi pembeda disini adalah tempatnya. Sekolah di atas papan, bekerja juga di atas papan. Tidak heran, jika masyarakat di Kota Agats pun bermain sepak bola di lapangan yang terbuat dari papan kayu.

Meskipun Kota Agats sudah merasa nyaman dengan penggunaan kayu, seiring perkembangan jaman dan teknologi, pemerintah setempat membuat jembatan berkontruksi beton yang lebih kuat lagi. Hingga saat ini pengembangan ibukota Kabupaten Asmat ini dilakukan di atas jalanan yang unik ini. Budaya dan daya tarik wisata yang dimiliki Agats seperti Museum dapat menjadi titik pertama yang dapat dikunjungi sebelum mempelajari kehidupan Asmat lebih lanjut. Berbagai informasi mengenai suku Asmat dan seputar kehidupan mereka dapat diketahui di Museum ini. Tidak ada biaya yang dikenakan untuk memasuki Museum, hanya kesadaran Anda saja untuk menyisihkan sedikit biaya bagi tambahan dana perawatan dan operasional Museum.

Keterbatasan lain yang dimiliki Agats adalah kurangnya pasokan air bersih. Masyarakat Agats hingga kini bertahan dengan air hujan yang ditampung di tabung-tabung air. Kondisi tanah rawa memang membuat tanah ini sulit menyediakan air bersih. Maka tidak heran bila mandi menggunakan air tampungan ini terasa lebih licin dan sulit untuk membilas sabun yang digunakan. Walaupun memiliki banyak keterbatasan, namun sarana-prasarana dan infrastruktur kota Agats sudah cukup memadai. Selain itu, tidak jauh dari pusat kota Agats, terdapat sebuah desa tradisional bernama Syuru. Di desa ini berbagai kebudayaan khas Asmat pun dapat kita lihat secara langsung.

Salut untuk warga Agats! Mereka saja tetap gigih dalam menjalani hidup di tengah keterbatasan fasilitas. Kamu yang hidup di kota besar apa kabar? Masa iya menyerah begitu saja? Malu dong sama saudara-saudara kita yang berada di Agats sana.